Pengaruh Keanekaragaman Hayati terhadap Sumber Pangan dan Kesehatan Dunia

Magelang – Keanekaragaman hayati (kehati) atau biodiversity sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia sebagai sumber pangan dan obat. dalam Talkshow yang diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta (20/05/2019) yang mengambil tema: Sustainable use of biodiversity for Our Food anf Our Health.

“Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019 bertujuan meningkatkan pengetahuan dan menyebarkan kesadaran tentang ketergantungan sistem pangan, nutrisi, dan kesehatan kita pada keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat,” ujar Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) saat membuka Talk Show dalam rangka Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019.

Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan telah banyak memberikan manfaat pada semua aspek kehidupan bumi khususnya manusia. Keanekaragaman hayati menjadi bagian penting dalam rantai kehidupan manusia, yang berperan sebagai life support system seperti rantai pangan, siklus hidrologi, siklus energi, biopropekting dan lain-lain. Namun keragaman alam tersebut tidak luput dimanfaatkan oleh segelintir orang atau pihak untuk keuntungannya sendiri. Misalnya melalui perdagangan. Jika perdagangan kehati ini tidak terkendali maka biodiversity pun akan punah. Oleh karena itu pencegahan sangat penting supaya kehati dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Witjaksono, mengatakan untuk itulah LIPI melakukan penelitian terhadap kehati Indonesia. Prosesnya diawali eksplorasi, koleksi, identifikasi dan karakterisasi.

“Negara seperti Jepang, Amerika Serikat sudah kehilangan sebagian besar biodiversity-nya. Sebagian sudah dikarakterisasi. Mereka pun mencari di daerah yang belum banyak dieksplorasi seperti datang ke Indonesia, Vietnam dan Afrika Selatan,” katanya di Gedung Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Selasa (26/5).

Untuk itulah penting bagi para ahli taksonomi untuk pergi ke hutan menemukan jenis-jenis baru. Biodiversity harus dijadikan pengarusutamaan. Pembangunan pun harus memperhatikan aspek kehati agar Indonesia tidak kehilangan kekayaan alamnya.

Berdasarkan laporan pencapaian Indonesia pada AICHI Target diketahui bahwa sejak tahun 2014 teridentifikasi 470 sumber daya genetik lokal memiliki potensi sumber pangan. Terjadinya perubahan paradigma kehidupan manusia modern saat ini yang menginginkan untuk memanfaatkan kembali hasil alam secara langsung termasuk dalam hal dunia pengobatan (back to nature), mengakibatkan tingginya permintaan akan produk obat yang berasal langsung dari tumbuhan obat sehingga menyebabkan nilai perdagangan akan terus semakin meningkat. Dengan meningkatnya permintaan tersebut, maka kita harus bisa mengendalikan pemanfaatan secara berkelanjutan.

Indonesia dalam Protokol Nagoya pun berusaha memperkuat posisinya. Witjaksono menjelaskan dalam Protokol Nagoya negara atau orang yang mempunyai biodiversity dapat bermanfaat jika digunakan untuk orang lain atau dikenal aspek benefit sharing.

“Dalam kerja sama, tidak hanya pengiriman material tetapi juga informasi genetik yang terkandung di dalamnya dan modifikasinya harus kita terima. Di Protokol Nagoya tidak mengatur hingga seperti itu, namun kita paksa seperti itu, jika mau kerja sama dengan Indonesia,” tuturnya.

Menjaga kekayaan keanekaragaman hayati untuk menjamin keseimbangan ekosistem dalam rangka pemenuhan kebutuhan sumber pangan dan kesehatan sangat diperlukan komitmen bersama dari pemerintah, NGO, private sektor dan masyarakat. Kegiatan talkshow pada Peringatan hari keanekaragaman hayati dunia 2019 bulan lalu diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam pencapaian Sustainable Development Goals dalam mendukung sistem hayati untuk keberadaan dan kesejahteraan manusia. #IDB2019KKH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *